3 Agustus 2008
Pagi itu, saya berangkat menuju Solo bersama mas Udin (Nasrudin), kawan seperjuangan, untuk mengikuti 6th International Youth Conference. Kami diantar dua orang baik (disebut begitu karena mau memberi kami uang saku.hehehe..), mas Ibad dan mas Udin(banyak banget ya yang namanya UDIN??) dengan mobil sewaan yang terpaksa disewa karena sedikit saya paksa(meskipun secara implisit-masalahnya pagi itu tak ada yang bisa mengantar saya-malangnya!!!)
Kami berangkat pada pukul 6.00 dari dusun Gowok-sekretariat. Perkiraan sampai di Solo pada pukul 07.00, tapi ternyata harapan hanya tinggal kenangan. Jam 07.45 saya dan kawan-kawan belum juga menemukan Taman Budaya Solo(TBS), tempat kafilah 6th International Youth Conference berkumpul sebelum menuju “TKP” di Karanganyar. Mas Udin(senior) harus bertanya dua kali, yang pertama dengan perempuan(ibu-ibu) yang bersepeda motor di traffic light saat lampu merah dan pada satpam untuk menemukan tempat tujuan.
Akhirnya pukul 8.00 sampai juga saya di Taman Budaya Solo. Sudah cukup banyak sebenarnya orang yang ada di tempat itu, namun ternyata acara belum dimulai. “Untung tidak jadi stress! Udah telat stress lagi!! Cilaka!!” kata mas Ibad disambut tawa penumpang lain.
Setelah turun dari mobil kami menuju tempat daftar ulang peserta. Sejurus kemudian semua peserta digiring masuk ke gedung teater untuk mengikuti pembukaan secara singkat, amat singkat tepatnya.
Setelah pembukaaan singkat, kami diperbolehkan untuk sedikit menghirup udara segar pagi hari ini di sekitar Taman Budaya. Kesempatan itu saya pergunakan sebaik mungkin untuk mendapatkan teman baru. Teman pertama yang saya kenal adalah Risa, mahasiswi UNS yang duduk di sebelah saya saat acara pembukaan. Kedua Widya, seorang Budha yang berusia 21 tahun berasal dari Lampung dan kini tinggal di Boyolali untuk menjalani studinya di STIAB (Sekolah Tinggi Ilmu Agama Budha). Teman ketiga adalah Dwi asal Solo dan yang keempat adalah Krisantiadi yang juga berasal dari Solo(usut punya usut ternyata acara ini sebenarnya adalah Solo Conference).
9.15 semua peserta dan panitia(tapi kata sang panitia, kami semua yang ikut acara ini sama saja. Sama-sama sedang belajar, sama-sama sedang menuntut ilmu. Jadi tak ada bedanya antara panitia dan peserta.) berangkat menuju kecamatan Karangpandan, kabupaten Karanganyar, tempat diselenggarakannya 6th International Youth Conference.
Kami semua menuggu datangnya jemputan. Semula saya mengira kami akan diangkut dengan bus pariwisata carteran panitia, ternyata kami harus naik ANGKUTAN UMUM dan berkelas ekonomi .namun ternyata asyik juga naik angkutan umum meskipun kegiatan ini berlabel INTERNATIONAL. Tak akan pernah ada lagi rasa gengsi atau sok eksekutif seperti kalau kita naik taksi yang sebelumnya diusulkan oleh mas Ibad. Hehe..^_^..
Pukul 10.05 semuanya sampai di Karangpandan. Kami semua harus berjalan dari tempat turun bus dengan membawa seperangkat alat hidup selama lebih dari seminggu menuju tempat acara.
Sampai di tempat yang dimaksud ternyata warga desa setempat telah bersiap memberikan suguhan. Sampai di sana kami langsung disuguhi alunan musik yang bersumber dari LESUNG atau biasa disebut musik lesung. Semua yang melihat akan tersihir dan ternganga takjub bila melihat dan mendengar indahnya pukulan antarkayu secara teratur oleh beberapa orang yang bisa menjadi irama yang sangat padu.
Setelah itu pesta instalasi budaya panen raya. Kami disuruh memanen padi dengan menggunakan ani-ani. Namun sebelum memanen ada upacara yang harus dijalankan terlebih dahulu. Antara lain harus mempersiapkan bunga boreh, bubur merah putih, cokbakal (persatuan komponen bunga), selendang (untuk menggendong padi yang dianggap pengantin. Rumput dianggap sebagai pengantin laki-laki yang berfungsi untuk membatasi varietas, kemudian pengantin perempuannya padi itu sendiri.)
Kami semua asyik memanen padi dengan ani-ani yang sekarang sudah sangat jarang digunakan. “Cara memanennya harus dengan satu tangan saja. Must do it by one hand. Tiga jari di atas, dua jari di bawah.” Kata mas Afu-mahasiswa IAIN Walisanga Semarang yang hafal Al-Qur’an sejak usia 8 tahun-kepada mbak Kapri, sahabatnya, berulang kali.
Selesai memanen kami harus memisahkan padi dengan rumput yang menempel pada batang padi. Setelah itu kami makan siang dengan beras organic yang dibuat menjadi tumpeng. Saya pun harus minum dengan kendi-langsung dari kendi masuk ke mulut, tapi saya tidak tega melihat adegan seperti itu. Selain itu kendinya ternyata berat juga.
Kemudian kami juga disuguhi camilan belalang goreng. terasa begitu asing memamng tapi tetap...Enyak! Enyak! Enyak!
Hari itu saya harus sholat dzuhur jam 14.15 karena harus berjalan jauh untuk mencapai masjid terdekat. Hari ini adalah hari yang begitu melelahkan.
Setelah itu ada pembagian rumah yang akan dihuni selama 8 hari ini. Ngenger atau homestay namanya.
Saya mendapatkan partner-yang tidur serumah dengan saya-mahasiswi UI yang bernama Anggi. Meskipun ditakdirkan serumah tapi kenyataannya kami tak pernah tidur bersama.sejak hari pertama mbak Anggi ini tidur di rumah kekasihnya di Solo. Miris memang bila melihat tragedy itu. Hal ini pun mengundang banyak reaksi dari warga desa Gemawang tempat saya tinggal untuk sementara waktu ini. Padahal tuaam rumah yang saya tempati adalah ketua karangtaruna dan sebagai penanggung jawab keselamatan seluruh peserta IYC yang tinggal di desa Gemawang.
Saya tinggal di rumah ibu Ngadinem. Rumah ibu Ngadinem ini dihuni oleh 9 orang, yaitu ibu Ngadinem, ketiga anaknya:mas Hengky, mbak Ninuk, dan Gendro, empat cucu: Kukuh (putra pertama mas Hengky dari istrinya yang pertama yang meninggal saat melahirkan Kukuh), Tegar (putra pertama mbak Ninuk-ia tak pernah lagi bertemu muka dengan ayah kandungnya kerena mbak Ninuk telah bercerai dengan suaminya yang seorang pengangguran), Rindu (adik Tegar), Bagas (putra kedua mas Hengky dari istri yang kedua), kemudian dengan satu menantu-istri mas Hengky, yang tidak saya ketahui namanya karena selama saya di sana saya belum pernah bertemu dengannya apalagi berkenalan. Jangankan berkenalan dengan saya, mengurus anak mas Hengky dari istri pertamanya yang meninggal saja dia tidak mau.
Kondisi rumah yang saya tempati juga cukup memprihatinkan. Saya harus hidup seatap dengan kambing, harus mandi di kamar mandi setengah terbuka, harus tidur di kasur yang kerasnya seperti batu bersama ribuan nyamuk, harus sholat di tempat yang amat sempit dan tidak pernah tenang karena seluruh penghuni rumah meskipun muslim tak pernah melakukan sholat dan di waktu sholat pun mereka tetap gitaran dan bernyanyi dengan suara yang sangat kencang. Ternyata seperti inilah realita kehidupan di masyarakat.
Yang bekerja di rumah itu hanya 2, yaitu mas Hengky sebagai kondektur bus dan ibu Ngadinem sebagai tukang sayur.
Pukul 20.00 semua peserta wajib menghadiri workshop wayang kulit dengan lakon Arjuna Wiwaha tanpa menggunakan lampu listrik dan soundsystem.
Pukul 22.00 pagelaran wayang kulit semalam suntuk dimulai dan saya pun bergegas pulang bersama sahabat baru saya, mbak Azzah, mahasiswi UGM yang tinggal tak jauh dari saya. Tak kuat sudah mata ini mananggung beban yang berat. Ngantuk!!!
4 Agustus 2008
Setelah morning session, kami mengikuti seminar kearifan lokal yang akan diisi oleh Prof. Dr. M. Damardjati Supadjar. Namun ternyata harus diganti Dr. Darsono, M. Sn. Sebagian dari kami sungguh kecewa dengan ini.
Kemudian bapak Darsono menyebutkan bahwa merajalelanya kecerdasan intelektual menyebabkan begitu banyak kekerasankarena semua merasa benar. Untuk membangun manusia yang arif kita harus membangun kecerdasan intelektual,emosional, dan spiritual.
Beliau juga membahas lakon wayang semalam yang ternyata berubah skenario menjadi lakon Begawan Ciptaning yang berasal dari serat Asmaradana. Pada lakon itu ada ajaran kasampurnan yang harus dicapai oleh manusia. Hal itu dilakukan dengan berdharma/beramal sesuai profesi masing-masing.
Misalnya saja orang zaman dahulu tidak berani mencantumkan nama pada karyanya karena itu diaggap sebagai pengabdian/dharma kepada Allah SWT karena mereka menganggap keindahan hanya milik Allah semata. Jadi, menurut beliau tidak perlu batik itu dipatenkan oleh Indonesia karena memang pada kenyataannya batik itu berasal dari India yang kita impor pada abad kesembilan.
Ajaran kasampurnan sebenarnya persiapan untuk mengalahkan keburukan dalam diri dan dari luar diri untuk kehidupkan selanjutnya.
Selesai workshop dan diskusi singkat kami ke rumah warga untuk belajar membuat jajanan pasar. Saya ditempatkan di rumah ibu Tari dan bertugas membuat klepon. Senangnya hati ini ketika akhirnya ada juga masakan yang saya kuasai.
Malamnya, makanan yang kami buat dijual di festifal jajanan tradisional. Barang-barang yang dijual harus dibeli dengan kreweng atau pecahan genteng. Untuk mendapatkan 1 kreweng kita harus menukar dengan uang seribu rupiah. Di sana juga diadakan pentas seni. Ada pertunjukan musik akustik dan musik bambu.
5 Agustus 2008
Setelah morning session kami mengikuti workshop alat musik bambu yang pada zaman dahulu digunakan sebagai alat komunikasi.
Satu pukulan menandakan ada kematian, dua pencurian, tiga kebakaran, empat, bencana alam, lima ada hewan besar, enam persiapan karena ada kejadian yang dicurigai, tujuh keadaan sudah tenang.
Setelah sholat kami makan dan mengikuti workshop kesenian. Namun pada workshop ini kebandelan peserta mulai terkuak. Sebagian peserta memang ada yang mengikuti workshop, namun sebagian besar yang lain malah main kartu dengan serunya. Terlihat sekali keceriaan dan keakraban mereka saat main poker.
Selesai workshop dan sholat kami harus gotong royong-kerja bhakti membersihkan lingkungan desa, lalu pulang ke desa masing-masing dengan berjalan kaki yang jaraknya mungkin ada kalau satu kilometer, tapi kami telah terbiasa. Hal itu menjadi rutinitas sehari-hari saya selama di sana. Malamnya kami digiring ke rumah seorang warga yang sampai saat ini tidak pernah menggunakan listrik di rumahnya. Hanya senthir yang terlihat di seluruh penjuru rumah.
6 Agustus 2008
Hari ini diadakan seminar globalisasi yang disampaikan oleh Gede Prama yang ternyata diganti oleh Prof. Dr. Damardjati Supadjar.
Peserta-khususnya yang bisa berbahasa Jawa sangat antusias mengikuti sesi ini karena yang dibicarakan selain seru juga banyak faktor sarunya.
Beliau mengambil tema “Pengenalan dan Pemanfaatan Kearifan Budaya Lokal Sebagai Karakter Bangsa-di tengah-tengah ERA GLOBALISASI” pagi itu.
Beliau mengatakan bahwa kearifan local itu seperti mata air jernih di hulu sungai kehidupan yang akan bermuara pada lautan luas merupakan fakta kejadian yang harus dibaca dan diperkenalkan sedemikian rupa, sehingga budaya local (Jawa-Sunda-Bali-Madura-Minangkabau-Batak-Dayak-Bugis-Maluku-Asmat-dan yang lainnya) harus dikaji, di rawat agar alirannya lancar dan bermuara pada lautan luas ke-Indonesiaan. Demikaan pula kesepakatan bersama (Tuah Sakato) yakni pandangan hidup bersama/PANCASILA pun harus bermuara pada Globalitas Universal yakni sebagaimana yang dikemukakan oleh Filsafat gotong royong dunia yakni FILSAFAT ORGANISME / FILSAFAT PROSES, yang memandang semesta segala ini sebagai sesuatu yang berstruktur (LAHIR-BATIN) dan berproses (AWAL-AKHIR) yang demikian itupun telah lama berurat berakar pada pandangan hidup Jawa berupa Ajaran PAMORING KAWULA-GUSTI serta Ajaran SANGKAN PARANING DUMADI. Fakta kejadian demikian itu harus diperkenalkan, dibaca tuntas pada SD, yang dilanjutkan perihal fakto-faktornya di tingkat SMP. Fungsinya pada tingkat SMA, sementara PT/UNIVERSITAS berlanjut ke Olah Peran. Dengan demikian suasana ASIH di lingkungan keluarga yang akan berlanjut ke “Rahim” ASUH di Pendidikan Formal/Sekolah, akan siap di-ASAH dalam lapangan Kehidupan, sehinggasemuanya berpegangan pada kearifan lokal lebih luas NON SCHOLAE SED VITAE DISCIMUS (“Keterpelajaran sejati itu tidak di sekolah namun dalam kehidupan).
Setelah itu diadakan workshop dolanan /game tradisi. Ada yang membuat gangsing (mas Wisik-panitia) dan panah (calon pendeta Teguh) juga busurnya dari kayu, keris (saya-karena tak bisa buat yang lain) dan bola dari janur, pecut dari pelepah pisang (mbak Susan-pelajar SMA 1 Karanganyar), kalung dan gelang juga mahkota dari bunga-bungaan (mbak Tonggie dan mbak Dina), kuda lumping superbesar (Roy) dari janur dan masih banyak kreasi yang lain.
Sejauh ini pertemanan antaranggota IYC sangat erat. Mungkin disebabbkan merasa mendapatkan kesulitan hidup (baca: penderitaan hidup) yang sama. Setiap hari harus berjalan jauh dan melakukan kegiatan yang melelahkan dan sesampainya di rumah dengan keadaan yang memprihatinkan harus kembali beramahtamah dan membantu pekerjaan orang rumah. Hampir semua dari kami diwajibkan mencuci baju oleh tuan rumah. Karena merasa tidak enak kami pun mencuci baju meskipun badan rasanya sudah tak karuan. “Hawanya kayak pengen bunuh orang kalau lagi capek nggak ketulungan gini!” kata mbak Rini.
Malamnya diadakan workshop networking dan apresiasi dokumentasi yang ditugaskan pada hari pertama saya datang. Hanya beberapa orang saja yang menampilkan karyanya karena yang lain belum siap-termasuk saya karena tulisan tangan saya masih berantakan dan saya mulai terjangkit flu karena terlalu capek setiap hari harus berjalan jauh. Bahkan ada yang sama sekali tidak membuat karena tidak menemukan konsep yang apik yang akan ditampilkan.
Di sini ada yang menyampaikan filosofinya tentang musik bambu, ada yang membuat lagu, menapilkan hasil jepretan dari kamera masing-masing, ada pula yang menampilkan drama mini dengan boneka.
Pukul 23.30 akhirnya kami pulang ke rumah ngenger masing-masing.
7 Agustus 2008
Pukul 7.30 kami melakukan bhakti lingkungan dan koservasi lahan kritis. Ternyata desa Gemawang yang saya tinggali susah sekali mmendapatkan air. Mereka harus membeli air dari PAM. Jarang sekali orang yang membuat sumur di desa ini. Bahkan sumber mata air atau biasa disebut dengan sendang kini sudah sangat sedikit airnya. Populasi burung dan binatang lainnya juga mulai berkurang karena banyak sekali pohon yang ditebang.
Saya berjalan bersama kelompok saya yang tak henti menimbulkan tertawa. Ada mas Ten, mas Aryo (mahasiswa UI), Jati (perwakilan gereja Semarang), Lucky (siswi SMP kelas 3, Semarang), dan mas Rudi (perwakilan remaja masjid, Semarang).
Selesai sholat dzuhur kami mengikuti workshop anyaman. Hampir semua dari kami berguru pada mas Ten (singkatan Teguh Nugroho-sang calon pendeta) untuk membuat ketupat. Memalukan sekali memang, saya yang notabene seorang muslim yang hampir tiap tahun makan ketupat sebagai kebiasaan lebaran juga tidak bisa merangkaikan janur kuning menjadi ketupat.
Malamnya kembali diadakan sarasehan yang sebenarnya diisi oleh Romo G. Budi, namun lagi-lagi harus diganti oleh mas Iwan karena sang narasumber berhalangan hadir.
Hal yang berulang terus itu menimbulkan kekecewaan di hati peserta.
8 Agustus 2008
Semua peserta yang tinggal di desa Gemawang melangsungkan rapat tertutup membahas keberlansungan hidup pada acara selama ini. Kami melihat ketidakcocokan antara jadwal dan acara yang dilaksanakan. Kami menganggap yang ditulis panitia pada jadwal hanyalah pemikiran yang ada di otak panitia saja, tidak dipikirkan bagaimana pelaksanaannya, dan tidak di konfirmasi terlebih dahulu dengan para narasumber. Embel-embel International pada judul kegiatan ini juga memunculkan rasa geram di hati. Hamper semua dari kami tertarik mengikuti acara ini karena ada kata International itu, namun kenyataannya sama sekali jauh dari yang diharapkan. Bahkan tak ada satu pun peserta dari luar negeri yang kami temui. Materi yang sebagian besar dipenuhi dengan aura kejawen juga menimbulkan protes dari peserta turunan Batak, Sunda, maupun Betawi yang sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa. Para pesrta dari Jakarta pun memutuskan untuk pulang ke Jakarta sore harinya meskipun acara masih tersisa dua hari.
Setelah rapat terbatas itu selesai kami kembali berjalan menuju pendopo Putri Duyung untuk mengikuti workshop Changing DNA-yang diambil sebagai tema besar yang baru dibahas pada hari keenam ini-yang akan disampaikan oleh Reinald Kasali. Entah mengapa, lagi-lagi sang narasumber tak dapat datang, tinggal rekaman video wawancara panitia dengan Reinald Kasali saja yang ada.
Selesai diskusi pun diadakan evaluasi acara selama ini dan bermunculanlah protes-protes dari peserta IYC. Dan pada saat itu pula bus yang membawa saya pulang ke Jogja dari terminal Tirtonadi berangkat.
Saya harus berpisah dengan semua kawan baru yang teramat baik melebihi saudara itu. Dengan air mata di pipi, saya harus rela meninggalkan International Youth Conference juga segala serba-serbi yang ada di dalamnya.
Sampai jumpa lagi kawan...
Labels: pengalaman yang tak terlupakan

mungkin kita sudah ga bisa ketemu lagi.
tapi inget kata-kata mbah lawu ; suatu saat kita akan ketemu.
ga lah...tuh, namamu aja masih terpatri di blogku..hehhehe
insya Allah bakal ketemu lagi kok..okok?