YES National Selection


1o Desember 2008 aku diberi pengumuman, lebih tepatnya berita, lewat telpon, oleh alumni AFS bahwa aku diberi kesempatan ikut seleksi YES (Youth Exchange & Study) dan parahnya tanggal 11 Desember malam, aku dan teman-temanku yang terpilih seleksi YES tingkat nasional ini sudah harus berangkat ke Jakarta untuk mengikuti seleksi tersebut.

Takjub, terkejut, dan penuh syukur adalah kata-kata yang mampu mewakili suasana hatiku saat itu. YES adalah beasiswa penuh ke USA selama sebelas bulan.

Sampai di Jakarta, 12 Desember 2008, kira-kira pukul 4.30 WIB aku dan kedelepan temanku dari Chapter Jogja disambut hangat oleh kakak-kakak panitia AFS dan beberapa kawan dari chapter Semarang yang datang lebih dulu di Stasiun Gambir. Ternyata chapter Jogja kebagian jatah di gelombang dua pada tahun ini bersama dengan chapter Semarang dan chapter Malang.

Setelah sholat subuh dan mencari pengganjal perut di stasiun, kami pun digiring menuju wisma Handayani di Jalan Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan untuk bersiap mengikuti tahapan demi tahapan seleksi yang akan segera dilalui.

Sampai di wisma kami pun segera mengetahui di manakah kami akan menginap dan siapa sajakah room mate kami tiga hari ke depan. Namun sayangnya kami tak mengetahui apa yang harus kami lakukan setelah ini. Sangat minim sekali informasi yang kami dapatkan sesampainya kami di sini. Bahkan untuk kumpul pun kurang sekali informasi dan konfirmaasi dari pihak panitia. Kami pun sempat dibuat bingung dengan ketidakjelasan kegiatan di awal ini.

Namun siangnya setelah Jumatan dan makan siang,kami akhirnya diberi pengarahan dan penjelasan tentang kegiatan dan peraturan yang berlaku selama seleksi ini. Setumpuk aturan pun kami terima sebagai konsekuensi mengikuti seleksi ini. Diantaranya adalah, tidak boleh membawa handphone (semua handphone peserta disita), tidak boleh menemui orang luar baik saudara maupun kenalan/ tidak boleh dijenguk, harus mengenakan pakaian yang rapi dan sopan, tidak boleh mengenakan jeans dan sandal, datang lima belas menit sebelum tiap-tiap sesi dimulai, peserta laki-laki tidak boleh memasuki kamar perempuan, begitu pula sebaliknya. Semua itu adalah peraturan yang cukup menyiksa yang harus kami lewati bersama selama hidup dalam gedung yang seakan terisolasi dengan dunia luar ini.

Sorenya seleksipun dimulai, yaitu dinamika kelompok pertama, di sana kami disuruh untuk membuat River of Life, sungai kehidupan kami, apa yang telah kami lalui selama hidup kami di dunia ini, dan mempresentasikan di hadapan masing-masing anggota kelompok dan kakak panitia yang menilai.

Malamnya adalah dinamika kelompok kedua yang diisi dengan dua game yang cukup membuat hati berdebar.salah satunya adalah memindahkan air dari dalam ember satu ke ember yang lainnya dengan menggunakan bantuan gelas aqua yang tidak boleh disentuh tangan. Kami hanya boleh menggunakan karet saja untuk memindahkan gelas aqua yang sudah dipotong lehernya. Bahkan ember pun tidak boleh terkena tangan. Bila ada air yang tumpah maka harus dipastikan dilap sampai kering dahulu sebelum meneruskan perjalanan membawa air ke seberang. Kelompokku pun membuat strategi-strategi jitu tanpa harus berbuat curang. Perlu diketahui bahwa ada beberapa peserta yang curang, misalnya tangan menyentuh ember maupun gelas aqua. Meskipun air yang dapat kami pindahan tidak sebanyak kelompok lain, namun kami cukup puas dengan kejujuran yang dapat kami pertahankan.

Setelah selesai dinamika kelompok untuk hari ini kami langsung kembali ke kamar dan mengerjakan tugas yang harus diselesaikan segera, yaitu mengisi data diri dan seluk beluk tentang pribadi kami dan form itu, sumpah, buanyak buanget!!!! Gileeeeee!!!Sampai tengah malam kami harus melembur mengerjakan tugas ini.

Keesokan harinya adalah tes paling menentukan dan paling mendebarkan. Interview.

Wawancara ini ditujukan untuk lebih menyelami kepribadian masing-masing peserta dan menilai potensinya. Ada Pak Taufik Ismail juga lhooo sebagai interviewer.. wuuuii, seru kan.? Selain itu ada juga sekretaris Guruh Soekarno Putra. Sayangnya aku tidak diwawancara oleh beliau-beliau ini. Tapi tak apalah. interviewerkupun tak kalah dahsyatnya.

Dalam wawancara ini ada yang mendapat pewawancara orang asing tapi malah diwawancara menggunakan bahasa Indonesia dan justru ada yang dapat interviewer orang Indonesia wawancaranya pakai bahasa Inggris. 100%. Alhamdulillah aku dapat yang setengah-setengah. Yang sedang-sedang saja.

Dan malam ini malam terakhir bagi kita..haha.. Sudah seperti lagu dangdut saja., ya.....
Yap! Malam terakhir dan kami mengadakan perpisahan di lapangan tenis wisma Handayani. Kami bernyanyi, tertawa, bercanda, melakukan banyak games bersama, dan kami harus berpisah segera.

Seleksi terakhir di hari terakhir adalah SLEP (Secondary Level English Proficiency) Test. Tes bahasa Inggris ini katanya untuk mencari sekolah di Amrik sana..wah.wah.

Dan setelah semua tes yang panjang ini berakhir, hp kami akhirnya dikembalikan dan dengan amat gembiranya kami menerima. Seperti para tahanan yang baru lepas dari hotel prodeo saja.

Dan saat berpisah harus segera kami lalui. Saat-saat paling menyebalkan tapi tetap harus aku lewati.
Selamat jalan kawan-kawan..
Semoga kita kembali bertemu di masa orientasi dan terbang bersama ke negri yang selama ini hanya ada dalam mimpi atau televisi.
See you everybody!!

2 Comments:

  1. Anonymous said...
    saluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttttttt..


    koe endi jak, neng poto ko ra unu..
    zakia el muarrifa said...
    weeeeeeehh..ono wae..sing nganggo jilbab item kui lhooo..jejere jilbab putih..wah jan..
    kacamatamu perlu diganti mas..wehehhe..

    tumben dolan di blogku..

Post a Comment



Blogger Template by Blogcrowds