Nglithih, atau "cari musuh dari SMA lain" adalah aktivitas yang amat sangat sering dilakukan oleh sebagian besar atau malah semua anggota gank pelajar di Yogyakarta. Bahkan teman sekelasku pun sering kena klithih kalau sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumah. Ampe opname segala deh gara-gara nglemparnya, kagak tanggung-tanggung, pake batako! Manteb dah! Maknyus!!
Hmm..Ironis sekali memang. Yogyakarta yang notabene sebagai kota pelajar, banyak orang terpelajar, namun kelakuannya tak kalah dengan preman pasar. Grafiti yang terukir manis di tiap tembok orang atau di pinggir jalan adalah "hasil karya" mereka yang sangat membuat mata berbinar.
Aksi tawuran pun menjadi ritual penting yang tak terkalahkan. Saling ancam dan lempar merupakan kewajiban. Minum-minuman keras dan mengkonsumsi obat terlarang pun menjadi kebutuhan.
Kekerasan adalah sesuatu yang dianggap amat biasa karena memang itu telah menjadi kebiasaan. Hal itu pun seperti merasuk ke dalam sanubari dan melekat dalam nyawanya..
Entah yang benar yang mana...?
Apakah kelakuan para anggota dewan yang anarkis saling melempar bogem mentah adalah lanjutan dari pelemparan batu saat tawur di SMA?? Atau justru anak SMA yang mencontoh mereka menjadi begundal negeri yang katanya mereka cintai??
Kekerasan benar-benar telah merajalela di negeri ini. Bahkan sudah dicap menjadi budaya ibu pertiwi yang dulu katanya Gemah Ripah Loh Jinawi.
Hmm..Ironis sekali memang. Yogyakarta yang notabene sebagai kota pelajar, banyak orang terpelajar, namun kelakuannya tak kalah dengan preman pasar. Grafiti yang terukir manis di tiap tembok orang atau di pinggir jalan adalah "hasil karya" mereka yang sangat membuat mata berbinar.
Aksi tawuran pun menjadi ritual penting yang tak terkalahkan. Saling ancam dan lempar merupakan kewajiban. Minum-minuman keras dan mengkonsumsi obat terlarang pun menjadi kebutuhan.
Kekerasan adalah sesuatu yang dianggap amat biasa karena memang itu telah menjadi kebiasaan. Hal itu pun seperti merasuk ke dalam sanubari dan melekat dalam nyawanya..
Entah yang benar yang mana...?
Apakah kelakuan para anggota dewan yang anarkis saling melempar bogem mentah adalah lanjutan dari pelemparan batu saat tawur di SMA?? Atau justru anak SMA yang mencontoh mereka menjadi begundal negeri yang katanya mereka cintai??
Kekerasan benar-benar telah merajalela di negeri ini. Bahkan sudah dicap menjadi budaya ibu pertiwi yang dulu katanya Gemah Ripah Loh Jinawi.
Labels: pengalaman yang tak terlupakan
7 Comments:
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



iya niiih..
sekolahku juga semakin horor!!!ckckck!ga ngerti deh musti gimana..temen-temen sendiri siiih..huh.
blognya bagus banget, sebagai pelajar, mesti ditingkatkan kemampuan adaptasi dunia internetnya yaahhh, saya yang sudah tua juga tetap semangat ngeblog; saya sdh joint baik di GFC, terimakasih
wah....sementara disini maseh dag dig dug nunggu pengumuman aplikasi....situ dah longgar...
CEC: terima kasih.
hehe..iya nih..lha aku proses seleksinya sudah dari setahun yang yang lalu.jadi sekarang saatnya untuk menuai hasil. semoga anda jadi ke korea aja deh yaaa..
contohnya, acara yang menampilkan penangkapan penjahat, kejahatan dll (yang sebenarnya dikelola oleh polisi... acara ini didukung humas polisi)... acara seperti ni cuku p menjadi contoh yang buruk, dan referensi yang terus menerus..
Makanya, rajin belajar jadi pintar... malas belajar jadi polisi..
ambiguuu!!